Denni Meilizon

Denni Meilizon – Ababil | Puisi Islami

pada sebuah masa yang tak diketahui

mari kejar bintang-bintang itu atau duduklah diam dan patuki saja detak jarum jam. atau, tunduklah kau, si bunga mekar di atas rumput basah. rumput dan cemara di tubir.

kaukah luka yang mimpinya dikunyahi semesta?

kau susunan singgasana, mengajak raja-raja mengejar bintang-bintang. malam bisu, melegam, dibakar raga sendiri. setiap kepak apapun itu, bergema sahut menyahut. pada namamu jua.

butir pepasir merajah diri dengan nama, oo

si rambut indah yang memeluk gunung-gunung

oo, pembawa telaga dalam dongeng

kau dongeng tidur di sebuah dunia yang bernama bayang-bayang. tiap jengkalnya memiuhkan keangkuhan perang. untukmu –unggunan dongeng belaka itu – bisa menyingkapkan rahasia dua juta tahun lampau yang mengurung, memampatkan pengetahun ke dalam kabar burung, mitos

mitos dalam kepala kita, o
jarum jam dalam gigitan semakin rakus mengunyah detak, detik, mengiris daging-daging
melumatkan dongeng pada malam

mimpi  menari, masih mengelupasi dinding kesayupan masa silam, menyusun kembali singgasana raja-raja. menata tatakan gelas para raja. tetapi deru puing memanggil kawanan badai, mengelus angin, menyimbah hantam. oo prahara, detik jam mengiris tajam. gelas berhamburan menjadi bulu. menjelma api. lautan membakar. terpanggang. pilu menanti. api. api  

apakah datang salju dari kepadatan hawa sejuk berdesir?

ini dongeng itu, kecemerlangan semua membiru memagut menggamit pemeluk gunung-gunung membangun singgasana. masa silam menghujam ke dalam bebatuan. menyeret desir. meredam gemuruh. padang pasir, memendam prasasti-prasasti. bilakah tanah rengkah, prahara melenguh?

di hadapan rapal gumam (ataukah mantera?) udara merah menyingkap daulat.

gugur angin meracau. petala. sinar berkilauan menguing dengan pongah. nyanyian pepasir dan derak tanah mengadu urat-urat pasak. dalam bumi berdesak-desakan membaca prahara.

bebatuan rengkah. pekik udara mengirim anyir. perang berkelebatan seperti kumparan yang mengirim ketakutan pada malam pekat tak terkatakan. anyir perang, geger, letusan, letusan, letusan. gema kutukan memekat memeluk ketat. ia dilemparkan ke dalam rahim untuk menjadi api. untuk menjadi bunga-bunga yang pecah ketika nanti dilahirkan di udara. oo

semburat. berhamburan. terberai. berderai. untuk menyambut sunyi yang akan berkuasa lama. lama sekali.

duaribu tahun sebelum masehi

gema ruang, kata pada waktu. kata pada debu. kata pada seseorang yang datang kemudian.  kepada pelarian. kepada menara pengintai. kepada angin lesap di dalam mezbah. ke dalam kitab-kitab. kepada perang. darah. airmata. kesumat silsilah. mitos. oo

tarikan matamu semanis tanah yang dijanjikan. bangun gema dalam ruang, kau ukur jengkal tiap sudut jendela dari masa lampau ke masa kini ke masa depan, kau tebar tanda bagi hud-hud melewati ayat-ayat orang di lembah bakkah, ketika duniamu menakar sunyi, tentu saja hanya ada malam. sisa suatu hari yang dimakan dalam mitologi lama, purba.

makanlah apel itu, menusuk garis ke garis. meraut nama-nama kehilangan. mengirim jarum mengaum membumi hanguskan. kaudengar lengkingan memahat batu-batu. gelombang menjadi tarian. selubung masa lalu kau balurkan dalam hamparan peta, tanda itu. bagi penjaga dalam sunyi yang memekatkan sisa malam. doa-doa, bisu.

palung berpaut dalam matamu. peluk pula gunung-gunung. peluk pulau benua. peluk tangisan-tangisan magis. itu langit menjadi busur dalam ruang yang telah kau ukur. maka ketika para penjaga yang berkait di dalam huruf  ayat orang di lembah bakkah mengayunkan cemeti, bergetar tanah mengayak pepasir, rahimmu penuh lelehan selaput janin yang segera lahir untuk mengowek keras sekali. untuknya kau telah minum doa luth, tangisan hud dan kecemasan nuh. kaubaca semua yang kembali, dari kawanan ababil pembawa batu api.

tetapi mata di dalam tanah petamu berkali-kali malih-rupa, tanda. kau dengar auman para bayi yang lahir setelah jarum membumi hanguskan tsamud dan aad. bacalah dan berpeganglah ke pada gelang tangan sulaiman dan ikutilah ia merentangkan kerajaan daud. peluk gunung-gunung di tiang pancang mezbah-mezbah. peluk pulau-pulau di atas gemerincing lonceng jibril, penghulu para penjaga.  sekarang kau bangun tangga dan kapal sebagaimana nuh. belajarlah kepada para penjaga cara untuk berlari ke atas bukit. keluarkan kuda hitam dan putih kepunyaan suku apa saja. bacalah atasnama maha kuasa. yang menciptakan segala. bacalah!

limaratus tahun setelah masehi

mari ikuti aku, hud-hud. kubawa kau menuju dunia lama. peta, getar gema dalam ruang kosmik. dimensi yang menjalari pohon zaqqum. getar pada sulbi azazil si laknat. membakar selimut cahaya, putih malih-warna menjadi bayang, terang berpendar menghisap dada, mata, apa lagi yang tersisa. di puncak pohon khuldi semesta mencair.

“ababil, merayaplah dalam hijaiyah dan bernyanyilah dalam ruang keseratus lima, kunci menuju dunia lama itu kau tahu ialah kata berdimensi lima”


itu syits, bapak manusia nan agung. tiap jengkal tubuhnya ialah gema manusia.
dia hanyalah cahaya, hud-hud! dan kita tidak berhenti di sini, jangan sapa dia. sebentar lagi akan kau lihat banjir bah itu, segera kepak sayapmu. qabil telah membunuh habil. darah yang mengalir dibaca lautan malaikat di hadapan arsy sebagai peperangan. sebab satu nyawa terbunuh bagaikan mematikan semua manusia.

oo.. hud-hud, itu dia iqlimiya yang cantik. rambutnya langsat tergerai halus memeluk gunung-gunung.

“ababil, merayaplah dalam hijaiyah dan bernyanyilah dalam ruang keseratus lima, kunci menuju dunia lama itu kau tahu ialah kata berdimensi lima”

sedepa ujar nuh mengalir. sedikit saja yang mendengar. hitung saja hud-hud, hitung saja. di sebuah bukit entah nanti bahtera berlabuh.

oo nuh, bapak agung pemegang silsilah manusia.

oo bapak manusia! dunia air, dunia tenggelam.

hud-hud, marilah turun sejenak, kita sapa ia yang terberkati.

“ke mana kaulabuhkan bahtera ini wahai yang tangisannya telah membumikan banjir bah? telah kami jelajahi semua penjuru, tak ada lagi daratan, daratan tenggelam!”

“terbanglah engkau hai ababil ke lembah mesopotamia! di themanon kita menegakkan kota!”

“temui ibrahim di sana, dinginkan api! dinginkan api!”

“ababil, merayaplah dalam hijaiyah dan bernyanyilah dalam ruang keseratus lima, kunci menuju dunia lama itu kau tahu ialah kata berdimensi lima”

percayalah pada suara-suara batu di kakiku. porinya ialah kerak neraka (malik sendiri yang meletakkannya di situ). kau lihat sayapku ini, hud-hud? ialah gelombang gema api yang menyala di bakar ledakan kosmik. sampaikanlah kepada mereka yang menunggu, tahun-tahun manusia menyurut, fana. aku ini telah melintasi mesopotamia lama dalam bentuk tanpa rupa, ketika nyala api didinginkan ibrahim.  ribuan tahun perjalanan ke atas langit lembah bakkah untuk menguliti tentara bergajah seperti daun di makan ulat. aku adalah penjaga penantian manusia itu. kususuri langit-langit peradaban masa silam dan masa mendatang. para penjaga hanya perlu melecutkan cemetinya untuk membuatku mengepakkan sayap api.

gema ruang, kata pada waktu. kata pada debu. kata pada seseorang yang datang kemudian.  kepada pelarian. kepada menara pengintai. kepada angin lesap di dalam mezbah. ke dalam kitab-kitab. kepada perang. darah. airmata. kesumat silsilah. mitos.

oo.


Tentang Denni Meilizon

Denni Meilizon, lahir di Silaping 6 Mei 1983, seorang Penyanyi yang juga Penulis prosa dan puisi. Puisi Ababil ini termaktub dalam buku kumpulan puisi Hidangan Pembuka, merupakan buku kumpulan puisinya yang ke tujuh.

Sampai saat ini, Denni Meilizon masih menulis feature, berita, opini, dan essai untuk keperluan halaman BUDAYA di koran HALUAN, surat kabar tertua di Sumatera Barat, yang ikut diasuhnya.

Dalam aktivitas menulis, Denni Melizon pernah meraih Anugerah Literasi Sumatera Barat (2016), dan pada tahun yang sama ia termasuk 20 Penulis Sumatera Barat yang diapresiasi oleh Gubernur Sumatera Barat.