Kekeyi saat podcast dengan Anji. (Dok. Istimewa)

‘Keke Bukan Boneka’ Diklaim Plagiat dan Kontemplasi Cover Lagu Religi

IslamicTunesNews – Pada umumnya para penulis membuat lagu dalam 7 nada yang ada pada tangga nada. Ketidaksengajaan sebuah lagu yang baru ditulis bisa saja terjadi kesamaan dengan lagu yang sudah ada sebelumnya. Influence juga sangat mempengaruhi, pada lagu yang tanpa sadar pernah didengar oleh si penulis lagu.

Lagu Rahmawati Kekeyi Putri Cantikka yang berjudul Keke Bukan Boneka dirilis pada 29 Mei 2020 di kanal Youtube ‘rahmawati kekeyi putri cantikka’ lagi trending 1 di YouTube. Lagu ini diklaim oleh Novi Umar, ada part yang sama dengan lagu Aku Bukan Boneka, lagu yang ditulisnya. Lagu Aku Bukan Boneka dinyanyikan oleh Rini Idol, dirilis pada 1 Februari 2008 di kanal YouTube sonybmgindonesia.

Novi Umar Respon Lagu ‘Keke Bukan Boneka’

Novi Umar, penulis lagu Aku Bukan Boneka. (Dok. Istimewa)
Novi Umar, penulis lagu Aku Bukan Boneka. (Dok. Istimewa)

Seperti dikatakan Novi melalui unggahan video (30/5/2020) di akun Youtube Novi Umar Official, “Sebelumnya saya diberi tahu sahabat saya, tentang adanya lagu saya ditiru. Saya sebenarnya memaklumi karena si penyanyi ini memang sebelumnya bukan penyanyi yang sudah punya album, dan mungkin dia belum mengerti soal hak cipta, dan hak intelektual orang lain. Tapi saya sangat menyayangkan dia pasti memiliki management atau manajer yang menaungi atau bahkan label yang tempat dia rilis lagu in, pasti paham akan hal itu.”

Novi pun merasa dirugikan, karena bagian dari lagu ciptaannya, diambil tanpa seizin darinya.

“Sedangkan part yang diambil merupakan racun dari lagu ini. Menurut saya, ini mengambil hak saya tanpa seijin saya. Saya akan respect sekali kalau sebelum hal ini terjadi ya komunikasi ke saya atau Sony Music tempat label saya bernaung,” kata Novi.

Respon Kekeyi Tentang Klaim Plagiat Lagu ‘Keke Bukan Boneka’
Rahmawati Kekeyi Putri Cantikka. (Dok. Istimewa)
Rahmawati Kekeyi Putri Cantikka. (Dok. Istimewa)

Sementara itu, pada video podcast Anji dan Kekeyi yang diunggah (31/5/2020) di kanal Youtube dunia MANJI, Kekeyi mengatakan, “Aku minta maaf kalau lagunya mirip. Tapi bener-bener sumpah, aku nggak ada niat jiplak. Itu murni aku menulis lagu itu karena pernah disakiti, Udah hubungi ka Rinni. Minta maaf kalau aku ada salah dengan lagu itu. Maaf banget aku bilang itu. Aku takutnya begini lho, aku takutnya kalau aku dipenjara kayak gimana. Aku cuma niatnya menghibur doang.”

Persoalan Cover Lagu

Terlepas dari kejadian yang tengah dialami Kekeyi dan mengingat kejadian sebelumnya yang juga pernah dialami Gen Halilintar, kita bisa mengambil hikmah, bahwa karya intelektual seseorang itu sangat bernilai harganya, dan tak bisa dinilai dengan uang.

Saat ini sangat marak pada pegiat lagu pemula meng-cover lagu seseorang, bahkan merubah lirik lagu milik orang lain, yang sebagiannya dilakukan tanpa ada mendapatkan izin dari pemilik karya originalnya.

Cover Lagu Religi Tanpa Izin

Tak hanya lagu umum, pada lagu religi juga ada terjadi tindakkan memproduksi ulang dan memasarkannya tanpa izin. Mungkin awalnya mereka hanya berniat untuk seru-seruan saja, dan bisa juga untuk konten mereka dalam membangun kanal YouTube.

Pada UU No. 28 Tahun 2014 tentang Undang-Undang Hak Cipta sebuah lagu telah mengatur bahwa; (1) Hak Cipta adalah hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa mengurangi pembatasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (2) Ciptaan adalah setiap hasil karya cipta di bidang ilmu pengetahuan, seni, dan sastra yang dihasilkan atas inspirasi, kemampuan, pikiran, imajinasi, kecekatan, keterampilan, atau keahlian yang diekspresikan dalam bentuk nyata.

Bagi pegiat lagu yang berani plagiat atau meng-cover lagu milik orang lain dan mempublikasikannya tanpa izin, akan menjadi ‘bom waktu’ untuk berurusan dengan pihak berwajib. 

Hakikat Berkesenian Musik

Merunut sejarah, penyanyi cover sulit untuk memperoleh pengakuan dari masyarakat, dan hanya ikut berpartisipasi untuk makin membesarkan nama penyanyi aslinya. Penyanyi sejati, penyanyi yang membangun karakter lewat rilisan karya original.

Untuk membangun karakter sebagai penyanyi sejati tentu tidaklah mudah, perlu kerja keras, karena harus membangun trending. Tanpa berlayar di biduk keyword trending dari hasil kerja keras orang lain.

Berkesenian bukanlah kerja individual, perlu kerjasama tim dengan jalan membangun silaturahmi. Dalam upaya saling saling mengisi dengan karakter masing-masing. Silaturahmi bisa jadi jalan bagi seorang penyanyi dalam melahirkan karya original, mulai dari menulis lirik, lagu, aransemen musik dan semua unsur yang diperlukan dalam memroduksi sebuah lagu.

Sebenarnya apa yang kita cari dalam bergiat di dunia seni musik? Viral atau eksistensi?

(*)